Senin, 05 Maret 2018

Unspoken Truth- things that never came up from her mouth

Maafkan aku
    yang belum mampu
    menghapus ingatan
    akan;

    kepergianmu yang melukis ruam
    bahkan sebelum kamu
    benar-benar sempat datang.

—ymm
   #witheredroses

-dikutip dari @phospheneos via LINE@

Rabu, 28 Februari 2018

Unspoken Truth

Bagian Pertama-spades




“You can call me when you’re lonely, when you can’t sleep, ’ll be your temporary fix.” – One Direction


1'st Pov

             "Hidup gue sungguh ribet."Senggaknya itulah kata yang pertama kali gue denger dari salah satu Close friend gue, Deira.

            ‘Tumben ngeluh,’ gue penasaran. ‘Pokoknya ribet.’ Jawab Deira dengan wajah lesu. Lebih baik gue mengakhiri percakapan gak penting ini, ngobrol sama Deira emang kadang buang-buang oksigen aja.

            Jam menunjukkan pukul 8.15 pagi, artinya jam pelajaran kedua hampir habis. Tapi dari tadi belum ada satu guru pun yang masuk, hoki.

‘Guruguruguruguru,’ ucap beberapa murid sambil berdesak-desakan di pintu masuk kelas.

‘Ah, bangke. Gue baru mau curhat juga.’ Sahut Deira, ‘Yaudah sono pergi ke meja lu.’ Tanpa bermaksud mengusir, karena pak Mara juga udah masuk. 

‘Fir, itu surat apaan?’ Tanya Putra sambil menunjuk buku catetan gue.

Lah, sejak kapan ada surat?

‘Nggak tahu, gue sendiri baru liat.’ Putra tampak berpikir, ‘Wah, dari pacar ya? Asik, udah bukan jomblo baqa lagi dong?’

Cih, mending jomblo daripada si Faliha, janda.’ Faliha langsung nengok, ‘Apa lu?’ 

Gue jawab ‘Gue istrinya Drew Taggart.’ Faliha hanya melotot sambil menaikan ujung kiri bibir atasnya, seperti di iklan ibu-ibu yang anaknya kena cacingan.


Putra langsung duduk dipinggir gue dengan enaknya, ‘Lu kan sebangku sama Adit. Ngapain duduk di sini?’
‘Bacot, udah cepet buka isi suratnya apaan.’ Katanya kesal. ‘Iya, ah ngegas banget.’



            Hai, Flika.
Saat kamu baca surat ini, mungkin aku udah gak bisa ngeliat wajah kamu yang nggak mirip Kendall Jenner itu. Maaf, tapi aku langsung epilepsi pas denger kamu ngaku-ngaku mirip Kendall Jenner.
Gini, deh. Aku cuma mau bilang kalau aku suka sama kamu. Aku tau kamu orang yang punya dua sisi. Bukan, bukan seperti Jessica yang menaruh sianida di kopi Mirna.
Aku tahu, kamu yang disekolah itu sangat berbeda dengan kamu yang dirumah.
Aku tahu kamu dirumah introvert.
Aku tahu kamu sebenarnya cengeng.
Aku tahu kamu sebenarnya pemalu.
Aku tahu kamu kurang akrab dengan papa kamu sendiri.
Aku tahu kamu justru malah sinis dan jutek terhadap orang yang sebenarnya kamu sayangi.
Tapi itu yang membuatku khawatir, Flik.
Kamu sangat ramah terhadapku. 
Aku hanya ingin meminta satu hal, Flik. Tolong kirim 50 juta ke rekening 098355283, ya.
Aku hanya bercanda, tapi jika kamu tetap ingin mengirim 50 juta juga tidak apa-apa, aku tidak akan menolak.
Aku hanya ingin, kamu memberiku kesempatan untuk berada satu shaf di depanmu, memimpinmu di setiap gerakan dan doa yang ku ucapkan.

Tertanda,
Penggemar rahasiamu,

Drew Taggart.

            Ya, seenggaknya itulah isi surat yang gue bayangkan saat membaca surat yang terselip di buku TIK itu.

‘Pfffffffttt’ Putra nahan tawa, gue nahan tangis.

Itu bukan surat. Itu kertas yang isinya gambar. Gambar apa? Gambar legend yang biasanya ada di dinding kamar mandi dan meja di tiap kelas.

 Yang gambar cowok. Iyalah, orang yang punya cowok.

‘Gambaran lo, ya?’ tuduh gue ke Putra secara langsung. 

 Putra hanya merengut tanpa menjawab apapun. Ya, meskipun gue akuin dia emang gak mungkin gambar ginian. 

Oke, biar gue jelaskan tentang si Putra ini. Dia cowok. Kurang tinggi, putih, badannya kecil (jam tangan Alrez muat di lehernya dia), suaranya cempreng, tapi kalau nyanyi nggak tahu kenapa bagus banget.

 Intinya putra itu kalau dikelas anak bawang.

‘Terus siapa dong?’

‘...Nak, silahkan masuk,’ ucapan Pak Mara yang satu itu sangat amat menarik perhatian gue.

‘Wih, ada murid baru,’ kata Putra dengan antusiasnya. Ya, kali ini murid barunya cewek. Gugurlah harapan gue buat bisa sebangku sama murid baru cogan dingin kayak teh sisri. Oh, apa gue lupa bilang kalau yang gak punya temen sebangku dikelas ini gue doang? Sayangnya murid di sini emang ganjil.

‘Gue agak gak suka dari raut mukanya.’ Bisik Putra, ‘Ah, kadang muka suka nipu.’ Kata gue pada akhirnya.

‘Nama aku Richa Andaya . Panggil Clara aja, ya ...’

‘Lah,’ kata gue bingung, ‘Gak  nyambung nying,’ sambung Adnan yang duduk di depan gue.

Mummi aku ngasih nama Andaya biar aku secantik Zendaya..’

Gue merengut, ‘Mum.... sibego,’

Putra ikut bingung, ‘Yakali dinamain Andaya biar mirip Ratu Jodha.’

Pak Mara kembali bersuara, ‘Nak Richa, silahkan cari tempat duduk yang kosong.’

Adnan teriak, ‘Gak ada, Pak!’ Dari titik tengah kelas, Galih ikut-ikutan, ‘Penuh semua, Pak!’

Pak Mara merengut, kayaknye kemaren ade yang sendiri deh, ‘Putra pindah dengan Flika?’ Putra jawab, ‘Iya, Pak. Kasian Flika suka epilepsi kalo pelajaran fisika,’

Gak terima, gue jawab ‘Lah, lo sendiri suka berbusa kalo pelajaran sejarah sama Bahasa Inggris.’ Putra hanya membalas dengan cengiran.

‘Lalu, Adit?’ tanya Pak Ridwan mengingat sebelumnya Putra sebangku dengan Adit. ‘Sama saya, Pak!’ teriak Galih.

‘Terus Revan?’ Pak Ridwan nanya lagi.
Revan, yang duduk di belakang Galih juga ikut berteriak, ‘Pokoknya gaada yang kosong, pak!’

‘GAUSAH TERIAK WOY CONGE.’ Teriak gue dengan kesal. 

Hari itu dipenuhi dengan teriakan para homo sapien jantan yang menghuni 10 IPS 3. Endingnya, Galih dipaksa pindah habitat, sementara Revan kini seatap dengan Clara. 

Rabu, 31 Januari 2018

Tijdelijk

Bagian Pertama

"Semua siswa, kedepan." Pak Manda memulai hari ini dengan bau-bau razia. "Yang putra di sebelah kanan, Putri sebehlah kiri."

Ketua kelas, yang tak lain tak bukan adalah Dita, diberi amanah untuk memeriksa badan setiap siswi. Barangkali ada yang menyembunyikan sesuatu di tempat gelap yang ada di tubuh mereka, saku.

Flika baris di bagian paling belakang, namun Pak Manda menyuruh Dita untuk mendahulukan Flika.

"Ah, Pak. Nggak akan macem-macem dia mah. Mentok-mentok tato teh sisri."

Meskipun begitu, Flika tetap diperiksa, dan lolos.

Esoknya, Tiana, teman sebangku Flika memasang muka mesem-mesem. Macam belum dapet asupan bergizi.

"Kenapa lo?" Tanya Flika pada Tiana, teman sebangkunya, yang terlihat melamun sejak jam pelajaran Fisika dimulai satu jam lalu. 

Hampir semenit, Tiana tampak masih enggan menjawab pertanyaan Flika. Yang bertanya hanya mendengus kesal, mungkin masalah pribadi, pikirnya.

"Kemaren pas razia gue nemu sempak, jijik." Ucap Tiana, seakan-akan tahu isi pikiran Flika.

"Hng," Flika tersenyum kikuk, bingung mau memberi respon bagaimana. Ternyata itu. Lah, gue kemaren nemu roti b aja.

"Di kresekin nggak?" Flika malah penasaran.

"Enggak, njir. Banyak lagi, nggak cuma satu."

Tiana tampak masih shock.

"Raha!" Fiah yang duduk di meja paling depan berteriak sambil cekikikan. Tangan kanannya tampak mengibarkan benda berbentuk segitiga dan terdapat tiga lubang. Berwarna hitam.

Sebuah sempak.

Si cowok yang disebut-sebut punya muka pejabat mendelik,

"Itu kancut gue," katanya dengan tidak semangat.

Terjadilah peristiwa sempak-melayang di kelas itu.

Dada Flika bergetar. Eh tunggu, itu ponselnya.

"Ter, dipanggil Pak Mara. Katanya mau ngomongin lomba cerdas cermat IAS." Suara Andromedha menggema mengisi pikiran Flika yang kosong.

Hanya orang-orang terdekat yang memanggil Flika dengan sebutan 'Oster,' termasuk teman sekelas dan kerabat terdekat. Selain itu, ia tidak mengizinkan orang lain menggunakan panggilan itu.

"Kamu dikelas? Mau dijemput?"

Klik. Sambungan dimatikan sepihak.
Teman sekelas Flika, yang bernama Adit, selalu berkata; cowok jaman sekarang kalo nggak playboy ya homo.

Jangan menyangka Andromedha adalah laki-laki yang normal namun playboy, tidak.

Flika diputuskan oleh Andromedha , setelah satu tahun pacaran, karena cowok itu mulai menyukai seseorang yang cara pipisnya sama dengan dirinya.

Cerita mereka memang macam novel remaja-dewasa yang gagal terbit.