Bagian Pertama-spades
“You can call me when you’re
lonely, when you can’t sleep, ’ll be your temporary fix.” – One Direction
1'st Pov
"Hidup gue sungguh ribet."Senggaknya itulah kata yang pertama kali gue denger dari
salah satu Close friend gue, Deira.
‘Tumben
ngeluh,’ gue penasaran. ‘Pokoknya ribet.’ Jawab Deira dengan wajah lesu. Lebih
baik gue mengakhiri percakapan gak penting ini, ngobrol sama Deira emang kadang
buang-buang oksigen aja.
Jam menunjukkan pukul 8.15 pagi, artinya jam pelajaran kedua hampir habis.
Tapi dari tadi belum ada satu guru pun yang masuk, hoki.
‘Guruguruguruguru,’ ucap beberapa murid sambil
berdesak-desakan di pintu masuk kelas.
‘Ah, bangke. Gue baru
mau curhat juga.’ Sahut Deira, ‘Yaudah sono pergi ke meja lu.’ Tanpa bermaksud
mengusir, karena pak Mara juga udah masuk.
‘Fir, itu surat apaan?’ Tanya Putra sambil menunjuk
buku catetan gue.
Lah, sejak kapan ada
surat?
‘Nggak tahu, gue sendiri baru liat.’ Putra tampak
berpikir, ‘Wah, dari pacar ya? Asik, udah bukan jomblo baqa lagi dong?’
‘Cih,
mending jomblo daripada si Faliha, janda.’ Faliha langsung nengok, ‘Apa lu?’
Gue jawab ‘Gue istrinya Drew Taggart.’ Faliha hanya melotot sambil menaikan
ujung kiri bibir atasnya, seperti di iklan ibu-ibu yang anaknya kena cacingan.
Putra langsung duduk dipinggir gue dengan enaknya,
‘Lu kan sebangku sama Adit. Ngapain duduk di sini?’
‘Bacot, udah cepet buka isi suratnya apaan.’ Katanya
kesal. ‘Iya, ah ngegas banget.’
Hai, Flika.
Saat
kamu baca surat ini, mungkin aku udah gak bisa ngeliat wajah kamu yang nggak
mirip Kendall Jenner itu. Maaf, tapi aku langsung epilepsi pas denger kamu
ngaku-ngaku mirip Kendall Jenner.
Gini,
deh. Aku cuma mau bilang kalau aku suka sama kamu. Aku tau kamu orang yang
punya dua sisi. Bukan, bukan seperti Jessica yang menaruh sianida di kopi
Mirna.
Aku
tahu, kamu yang disekolah itu sangat berbeda dengan kamu yang dirumah.
Aku
tahu kamu dirumah introvert.
Aku
tahu kamu sebenarnya cengeng.
Aku
tahu kamu sebenarnya pemalu.
Aku
tahu kamu kurang akrab dengan papa kamu sendiri.
Aku
tahu kamu justru malah sinis dan jutek terhadap orang yang sebenarnya kamu
sayangi.
Tapi
itu yang membuatku khawatir, Flik.
Kamu
sangat ramah terhadapku.
Aku
hanya ingin meminta satu hal, Flik. Tolong kirim 50 juta ke rekening 098355283,
ya.
Aku
hanya bercanda, tapi jika kamu tetap ingin mengirim 50 juta juga tidak apa-apa,
aku tidak akan menolak.
Aku
hanya ingin, kamu memberiku kesempatan untuk berada satu shaf di depanmu,
memimpinmu di setiap gerakan dan doa yang ku ucapkan.
Tertanda,
Penggemar
rahasiamu,
Drew
Taggart.
Ya,
seenggaknya itulah isi surat yang gue bayangkan saat membaca surat yang
terselip di buku TIK itu.
‘Pfffffffttt’ Putra nahan tawa, gue nahan tangis.
Itu bukan surat. Itu kertas yang isinya gambar.
Gambar apa? Gambar legend yang
biasanya ada di dinding kamar mandi dan meja di tiap kelas.
Yang
gambar cowok. Iyalah, orang yang punya cowok.
‘Gambaran lo, ya?’ tuduh gue ke Putra secara
langsung.
Putra hanya merengut tanpa
menjawab apapun. Ya, meskipun gue akuin dia emang gak mungkin gambar ginian.
Oke, biar gue jelaskan tentang si Putra
ini. Dia cowok. Kurang tinggi, putih, badannya kecil (jam tangan Alrez muat di
lehernya dia), suaranya cempreng, tapi kalau nyanyi nggak tahu kenapa bagus banget.
Intinya putra itu kalau
dikelas anak bawang.
‘Terus siapa dong?’
‘...Nak, silahkan masuk,’ ucapan Pak Mara yang
satu itu sangat amat menarik perhatian gue.
‘Wih, ada murid baru,’ kata Putra dengan antusiasnya.
Ya, kali ini murid barunya cewek. Gugurlah harapan gue buat bisa sebangku sama
murid baru cogan dingin kayak teh sisri. Oh, apa gue lupa bilang kalau yang gak
punya temen sebangku dikelas ini gue doang? Sayangnya murid di sini emang
ganjil.
‘Gue agak gak suka dari raut mukanya.’ Bisik Putra,
‘Ah, kadang muka suka nipu.’ Kata gue pada akhirnya.
‘Nama aku
Richa Andaya . Panggil Clara aja, ya ...’
‘Lah,’ kata gue bingung, ‘Gak nyambung nying,’ sambung Adnan yang duduk di
depan gue.
‘Mummi aku
ngasih nama Andaya biar aku secantik Zendaya..’
Gue merengut, ‘Mum.... sibego,’
Putra ikut bingung, ‘Yakali dinamain Andaya biar
mirip Ratu Jodha.’
Pak Mara kembali bersuara, ‘Nak Richa, silahkan
cari tempat duduk yang kosong.’
Adnan teriak, ‘Gak ada, Pak!’ Dari titik tengah
kelas, Galih ikut-ikutan, ‘Penuh semua, Pak!’
Pak Mara merengut, kayaknye kemaren ade yang sendiri deh, ‘Putra pindah dengan Flika?’
Putra jawab, ‘Iya, Pak. Kasian Flika suka epilepsi kalo pelajaran fisika,’
Gak terima, gue jawab ‘Lah, lo sendiri suka berbusa
kalo pelajaran sejarah sama Bahasa Inggris.’ Putra hanya membalas dengan
cengiran.
‘Lalu, Adit?’ tanya Pak Ridwan mengingat sebelumnya
Putra sebangku dengan Adit. ‘Sama saya, Pak!’ teriak Galih.
‘Terus Revan?’ Pak Ridwan nanya lagi.
Revan, yang duduk di belakang Galih juga ikut
berteriak, ‘Pokoknya gaada yang kosong, pak!’
‘GAUSAH TERIAK WOY CONGE.’ Teriak gue dengan kesal.
Hari itu dipenuhi dengan teriakan para homo sapien jantan yang menghuni 10 IPS 3. Endingnya, Galih dipaksa pindah habitat, sementara Revan kini seatap dengan Clara.